Traces Of The Past

Title : Traces Of The Past

Cast : – Kim Jong In (Kai EXO)
– Han Sera (Original Cast)
– kim JunHee

Genre : Romance, Chapter, Straight

Summary : Aku yang terbuang, Akan membalasmu lebih menyakitkan daripada apa yang telah kau lakukan. Menyakitkan, dan aku akan menyakitimu lebih dari apa yang kau tahu. Aku bukan lagi wanitamu yang dulu. Kau yang merubahku. Maka jangan salahkan aku jika suatu saat aku menghancurkanmu dan merampas segala hal yang menjadi milikmu.

Gambar

  • Sendiri.

    aku akan menghidupinya sendiri. kuputuskan untuk bertahan sendiri. aku tak ingin membuangnya sepertimu.

    dia anakku. dia darah dagingku. akibat dari kesalahan yang seharusnya tak kau lakukan padaku.

    kupandangi kotak kaca inkubator di hadapanku. seorang bayi mungil tengah tertidur lelap didalamnya. sesekali mengecap-ngecapkan bibirnya dengan lucu.

    kutatap nanar sosok malaikat kecilku itu. begitu menyedihkan membayangkan bayi tak berdosaku ditolak begitu saja olehnya.

    aku tahu kau tak menginginkannya. aku tahu apa yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan.

    tapi kau merubahku, penyesalan atas sikapmu merubahku menjadi sosok wanita angkuh dan serakah.

    aku menginginkanmu. segala yang kau miliki, hidupmu dan semua tentangmu, aku berambisi untuk meraihmu kembali.

    “Kau harus hidup junhee… kau tak boleh menyerah… kau harus bernafas… kau akan hidup dalam dekapanku.. kelak… saat kau tumbuh besar.. kau akan berdiri di tempatmu yang sebenarnya… “. gumamku pelan. seolah mengatakan hal itu pada bayi kecilku.

    “kau tak bisa membuangku seperti ini… kau harus membayar semuanya.. Kim Jong In..”

    “suatu saat.. akan kubuat kau disengsarakan oleh darah dagingmu sendiri… kau akan menyesal karena telah menghancurkan hidupku..”

    Flashback…

    sore yang indah. ini benar-benar liburan musim panas yang menyenangkan.

    matahari sudah condong ke barat. menandakan malam sudah menjelang. namun aku tak peduli.

    aku masih duduk manis sambil melipat kedua kakiku. kuletakkan sebuah bantal sofa berwarna putih di pangkuanku. menikmati petikan gitar dari jari-jari panjang kekasihku.

    Kim Jong In.

    Namja tinggi berkulit sedikit coklat itu bernama Kim Jong In. adik kelas yang berada 1 tingkat di bawahku. dan namja muda itulah kekasihku.

    sesekali kami bernyanyi bersama. bersenandung tanpa henti. terkadang kami tertawa konyol di saat salah satu dari kami salah melafalkan lirik.

    “Ya!!noona!!liriknya bukan seperti itu..”

    “oh?jinjjayo?”

    “ck… nyanyianmu kacau..”.

    Aku mendengus sebal mendengar ejekannya. tahu bahwa aku kesal karena perkataannya, jong in kemudian tertawa keras. mengacak rambut panjangku dengan pelan.

    sikapnya memang manis. bahkan usianya yang terpaut 1 tahun lebih muda dariku itu tak mampu menutupi fakta bahwa dia memang lebih dewasa dariku. itulah alasan kenapa aku bisa jatuh ke dalam pesonanya.

    “noona.. aku lapar”. ucapnya seraya mengusap perutnya.

    aku berdecak sebal. namun setelah itu aku beranjak berdiri tanpa berkata apapun.

    “hanya ada susu dan roti, aku belum sempat membeli apapun hari ini”. aku berucap sambil berjalan menuju dapur flat tempat tinggalku.

    ya, aku hanya tinggal di sebuah flat sederhana. aku tinggal sendiri. kedua orang tuaku menetap di ulsan. biasanya sebulan sekali aku mengunjungi mereka.

    “gwaenchana… kau tahu.. aku bisa memakan apapun saat aku lapar”. dia beranjak dari duduknya. mengikutiku yang berjalan ke arah dapur.

    begitu tiba di dapur. kuambil sekaleng susu coklat dan roti dari dalam lemari penyimpananku, kemudian memanaskan air untuk menyeduh susu bubuk itu. sambil menunggu air mendidih, kupanggang beberapa helai roti tawar lalu mengolesinya dengan selai kacang kesukaannya.

    “liburan hampir selesai.. apa setelah ini aku masih bisa menginap disini?”

    “tentu saja tidak!!”

    “ck… tapi aku suka tinggal di flatmu noona”

    “hei… kau sudah terlalu sering membohongi orang tuamu, selama liburan musim panas ini saja kau sudah berbohong 8 kali untuk menginap disini,belajar bersama di rumah baekhyun, liburan ke rumah bibinya sehun di uijeongbu, berkemah bersama teman-teman sekelasmu, lalu apalagi?aku heran… kenapa orang tuamu tidak curiga pada alasan-alasanmu yang tidak masuk akal itu, lalu kau mau menggunakan alasan apalagi untuk menginap disini?”

    “hah…noona… ternyata semakin hari penyakit cerewetmu bertambah parah ya?kau berbicara panjang lebar seperti itu, seolah-olah kau tidak suka aku tinggal disini…”

    “aku memang tidak suka kau menginap di flatku kim jong in!!”

    “Kenapa?”. tanyanya dengan binar mata polosnya. membuatku ingin sekali melemparkan pemanggang roti dihadapanku itu tepat di kepalanya.

    “karena kau itu berbahaya!!”. tegasku sembari menatapnya tajam.

    “aku berbahaya?kau pikir aku ini serigala?!!”. cibirnya.

    “kau memang serigala,kau tidak ingat?2 hari lalu saja kau menyelinap ke dalam kamarku jam 2 dini hari, padahal aku sudah menyuruhmu tidur di sofa jika kau ingin menginap disini!!”

    “itu karena kau kejam sekali… kau pikir tidur diluar hanya dengan bantal dan selimut tipis itu tidak membuatku kedinginan?!!bahkan setiap pagi aku selalu bangun dengan anggota tubuh tidak utuh karena nyamuk-nyamuk sialan itu menggigitiku sepanjang malam!!”

    “hei… itu resikomu tuan kim… bukankah aku sudah mengusirmu dari flatku beberapa kali?dan nyatanya kau tetap tak bergeming dari sini,kau itu sudah punya rumah yang seperti istana, lalu untuk apa…”

    “karena disini hangat!!”. teriaknya.

    bibirku terkatup mendengar teriakannya. dia tampak kesal mendengarku yang terus mengoceh tanpa henti.

    dia menatapku tajam. bahkan tak berkedip sedikitpun. membuatku diserbu oleh rasa gugup yang tiba-tiba. akupun dibuat jadi salah tingkah oleh sorot tajam yang seolah menelanjangiku bulat-bulat.

    kuputuskan kontak mata kami. kembali menatap panci yang terisi air yang kini sudah mendidih.

    kumatikan komporku. kembali meraih roti-roti yang telah selesai kupanggang.

    dan ketika kedua tanganku masih sibuk mengolesi roti panggang itu dengan selai, kurasakan sepasang tangan kokoh yang merengkuh tubuhku dari belakang.

    “karena kau hangat noona…”. bisiknya lirih. menyusupkan wajah tampannya di leher sebelah kananku. “kau tahu pasti… rumah yang kau lihat seperti istana itu kosong… membuatku kedinginan saat aku tinggal di dalamnya.. tak ada cinta dan kasih sayang yang menghangatkanku.. mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan.. sebuah alasan klasik bagi seorang anak pengusaha sepertiku..”

    kuletakkan pisau dan roti yang ada di dalam genggamanku.

    Berdiam diri pasrah di dalam dekapan tangannya.

    “aku merasa hangat di tempat sempit ini.. aku merasa di dengarkan, aku merasa di perhatikan… dan aku bisa merasakan kasih sayangmu yang begitu besar kepadaku..”

    “jong in… sudah berulang kali kukatakan padamu… mereka menyayangimu.. kau mengingat kata-kataku?hem?”. jawabku sambil tersenyum tipis.

    “ya…”.

    dia hanya menjawab singkat. masih terdiam dan mematung sambil memeluk tubuhku.

    “mereka hanya…”

    “mereka hanya tak punya waktu untuk menunjukkan kasih sayangnya padaku,itu kan yang ingin kau katakan?”

    aku menghela nafas panjang. masih tetap membiarkannya bersandar pada tubuhku.

    “sera noona…”

    “hem?”

    “aku menginginkan sesuatu darimu,kau bisa mengabulkannya?”

    “akan kuusahakan…”

    “aku…. menginginkan kehangatan lain darimu…”

    “apa?!!”. mataku terbelalak. mengerjab beberapa kali ketika mendengar ucapannya.

    “sekali saja… dan aku berjanji tak akan mengulang permintaanku lagi kelak..”

    “t…tapi jong in…”

    “tubuhku sudah mengigil noona, kumohon…”

    pukul 20.00 @my bedroom

    panas.

    ini bukan sekedar rasa hangat. ini benar-benar hawa yang panas. bahkan panas itu membuat tubuh kami berkeringat.

    baik aku dan jongin sama-sama masih terengah. mengatur deru nafas masing-masing.

    sprei tempat tidurku sudah tak beraturan. bed cover biru mudakupun tampak sudah lusuh. pakaian-pakaian berserakan tak beraturan di lantai dan ranjangku.

    kucengkeram erat selimut tebal yang menutupi tubuhku. mengabaikan hawa panas yang masih menjalari tubuh polosku.

    begitu pula dengannya. dia hanya tidur telentang dan diam. nafasnya masih tersengal. matanya terpejam rapat. sedangkan tangannya hanya mengacak dan menjambaki kecil rambut hitamnya.

    sikapnya seperti sedang merutuki sesuatu. menyesalkah dia?hei… bukankah aku yang harusnya menyesal karena sudah menyanggupi permintaan bodohnya?

    dia membenarkan selimut yang menutupi sebatas pinggangnya. kemudian beringsut mendekat padaku yang tengah memunggunginya.

    Memeluk tubuh kecilku tanpa permisi.

    “Noona…”

    “aku takut jongin..”

    dia diam. masih belum menjawab perkataanku. tarikan dan hembusan nafas beratnya terdengar jelas di telingaku.

    mataku panas. dan setelah itu, bulir-bulir itu berdesakan keluar dari pelupuk mataku. mengalir deras bak anak sungai yang tengah banjir.

    “kau tahu pasti apa alasanku jongin…”

    “sstt….”. desisnya pelan. memintaku untuk tenang. memeluk tubuhku semakin erat. “kau hanya termakan oleh fikiran konyolmu noona..”

    aku tersentak. kupalingkan wajah dengan mata sembabku. menatapnya dengan tatapan tak percayaku.

    “konyol kau bilang?!!kau pikir ini lelucon??!!kau sudah mengambil harga diriku sebagai seorang wanita dan kau bilang ini hanya hal konyol?!!”. kudorong tubuhnya yang tengah memelukku. kutarik kembali selimutku ketika aku terduduk dan menatapnya marah.

    “kau hanya terlalu kolot sera!!melakukannya sekali saja, itu tak akan membuatmu hamil!!”

    “kolot?!!kau tahu?!!bahkan ini yang pertama untukku!!kujaga harga diriku setengah mati dan kau baru saja mengambilnya,dan sekarang kau masih mengataiku kolot?!!ya!!kemana otakmu kim jong in”

    “kau pikir aku pernah melakukannya dengan orang lain?!!ini juga yang pertama untukku, tapi aku tidak menyesal…”

    “itu karena kau namja, apa yang sudah kita lakukan tak akan merubah apapun dalam hidupmu, tapi aku?”

    “ck… kau jangan bodoh… hampir semua temanku melakukannya dengan kekasihnya, dan mereka baik-baik saja”

    aku menelan ludahku dengan susah payah. meredam isakanku yang tak kunjung berhenti. kutatap nanar kedua bola matanya yang kutahu, tak ada penyesalan sedikitpun yang terlihat dari tatapannya.

    “lalu bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?!!bagaimana kalau aku benar-benar..”

    “jika memang benar kau hamil itu tak akan jadi masalah yang berarti noona…”. dia menyahut ucapanku dengan pelan. meraih puncak kepalaku dan kembali mengusapnya pelan.

    “banyak dokter yang bisa melakukannya..”

    “m…maksudmu?kau…kau tak akan bertanggung jawab?”. aku menahan nafasku yang tercekat di tenggorokanku.

    Benar-benar merasa takut dan tak siap dengan jawaban yang akan kudengar.

    kulihat jong in terkesiap sesaat. sebelum akhirnya dia menyunggingkan senyum manis di bibir merahnya. dia menarik tubuhku pelan. memelukku erat sembari mengusap puncak kepalaku.

    “tentu saja.. tak mungkin aku akan memintamu melakukan hal bodoh seperti itu, kau tahu aku sangat mencintaimu bukan?”

    5 minggu kemudian @Hospitals Schools

    “huk…”

    aku membungkuk di depan washtafel di ruang kesehatan. berkali-kali soojung menepuk-nepuk pundakku. sahabatku itu tampak kasihan melihatku yang jadi sering muntah akhir-akhir ini. bahkan pagi ini aku pingsan saat jam olahraga. maka dari itu, teman sebangkuku itu memutuskan untuk menemaniku di ruang kesehatan.

    aku menduga, sepertinya anemiaku kembali kambuh. aku memang memiliki penyakit anemia akut sejak kecil.

    “kau baik-baik saja?”. tanyanya begitu aku menegakkan tubuhku.

    aku mengangguk pelan, walaupun sejujurnya mataku tampak berkunang-kunang dan kepalaku terasa pusing.

    “tapi kau tampak tidak sehat akhir-akhir ini sera, kau sudah pergi ke dokter?”

    “gwaenchanayo…kau tak perlu cemas soojung, aku tak perlu pergi ke dokter, anemiaku hanya sedang kambuh, aku akan membaik setelah rutin minum penambah darah..”

    aku berjalan kembali menuju ranjang yang ada di ruang kesehatan. kemudian berbaring perlahan disana.

    “tapi seingatku anemiamu tak pernah kambuh lebih dari 3 hari..”

    “aku hanya terlalu lelah soojung, aku akan sembuh setelah tidur cukup dan…”

    “sera…”

    “nee?”

    soojung menatapku lama sekali. membuatku mengernyit bingung karena dia tak juga melanjutkan kata-katanya.

    dia berjalan mendekatiku. lalu berdiri tepat di samping ranjang. dari raut wajahnya, tampak sekali dia sedang bingung dengan hal yang ingin dia ucapkan.

    “ada apa?”. tanyaku pada akhirnya.

    “aku tahu… mungkin pertanyaanku ini sedikit konyol dan terkesan lancang, tapi.. aku benar-benar berfikir tentang ini..”

    “maksudmu?”

    “kau…. tidak pernah melakukan hal itu dengannya bukan?”

    “aku… tidak mengerti soojong…”. aku masih mengamati mimik wajah gugupnya. berusaha mencerna maksud ucapannya.

    “Maksudku… kau tidak pernah tidur dengan jong in kan?”

    aku terbelalak. seolah tertampar dengan pertanyaan sahabatku sendiri.

    dan tiba-tiba semua memory itu berputar. mengingatkan kembali tentang satu malam penuh dosa dan nafsu yang pernah kulewati bersama kekasihku itu.

    pukul 16.45 @my bathroom.

    hancur.

    semuanya hal dalam hidupku terasa sudah dihancurkan oleh 2 garis merah yang muncul pada stick putih itu.

    begitu pulang dari sekolah, kuputuskan untuk mencari alat tes untuk kehamilan. entah kenapa, firasatku benar-benar tidak enak setelah mendengar pertanyaan soojung.

    kutatap nanar benda kecil berwarna putih yang ada di tanganku. tubuhku seketika merosot pada dinding kamar mandiku.

    aku membuang alat itu sembarangan. tiba-tiba merasa jijik menatap 2 garis merah yang berjajar rapi disana.

    aku terisak hebat. menangis dalam diam. sendirian.

    kutundukkan wajahku. menyembunyikannya diantara lututku.

    tanganku bergerak, menyentuh perut datarku. meremas seragam dan sedikit kulit perutku. berharap aku bisa menyakiti janin yang tertanam di dalam rahimku.

    Aku menangis.

    “kenapa?!!kenapa kau tumbuh?!!aku tak menginginkanmu bayi sialan!!”. umpatku keras di antara isakanku sendiri.

    4 hari kemudian @my living room, pukul 18.00

    aku duduk bersandar pada sofa hitam yang ada di ruang tamuku. badanku rasanya lemas sekali. efek dari usia kehamilan yang masih muda.

    jongin sejak tadi tertidur dengan kepala yang berada di pangkuanku. seragam sekolahnya masih melekat pada tubuhnya, walaupun sudah tampak berantakan.

    dengan sabar kuusap rambutnya. mengamati wajah tampannya yang tengah tertidur.

    “jongin…”. panggilku lirih.

    dia membuka matanya dengan segera. rupanya dia hanya berpura-pura tertidur.

    “nee noona?”. jawabnya sembari tersenyum manis.

    kuhentikan usapan tanganku pada rambutnya, beralih menatap kedua mata indahnya.

    “aku….em… ada yang ingin kukatakan padamu…”

    “tentu saja…”

    aku merasa bingung. harus darimana aku harus memulainya terlebih dulu.

    “jongin… kau… masih mengingat… tentang kejadian beberapa minggu yang lalu bukan?”

    dia mengernyit seketika. lalu kembali menyunggingkan senyumnya dan berdehem.

    “hem…”

    “hah….”. aku mendesah pelan. berusaha melepaskan rasa takut yang mengganjal di hatiku. “aku baru tahu 4 hari lalu kalau ternyata… ada benihmu yang tertanam dan tumbuh di rahimku”

    “Apa?!!”

    Sontak dia terbangun dari baringnya. menatap lurus padaku,lengkap dengan ekspresi wajah terkejut yang teramat sangat.

    “aku tahu kau pasti terkejut jong in..”

    lama sekali dia terdiam dan menatapku dengan tatapan terkejutnya. sampai akhirnya, tiba-tiba dia tertawa keras sekali.

    “hei Han Sera… kupikir sekarang bukan saatnya untuk april mop… bahkan tanggal ulang tahunku dan ulang tahunmu juga sudah terlewat..”

    “kau pikir aku bercanda?!!”. nada bicaraku meninggi seketika.

    “iya-iya… aku akui, kau berhasil mengejutkanku dengan leluconmu noona…”. jawabnya masih dengan suara tawanya.

    “ini bukan lelucon!!ini hal nyata, aku benar-benar hamil”

    “iya-iya… aku sudah percaya noona…”. dia masih tertawa terpingkal. tak mempedulikan raut wajah seriusku.

    “KIM JONG IN!!”

    PLAK!!!

    tawanya seketika hilang. teredam oleh tamparanku di pipi kanannya.

    lagi-lagi sifat rapuhku muncul. menangis.

    “kau….”

    “aku serius…”. ucapku pelan dan penuh penekanan. “semua diluar kendaliku.. dia tumbuh begitu saja tanpa kusadari selama 5 minggu…”

    “tapi noona…itu hanya sekali dan… dan aku..aku… aish!!”. dia mengacak rambutnya frustasi. memalingkan wajahnya ke sisi kiri dan kanan. “bagaimana bisa?”

    “bagaimana bisa?kau masih bertanya?kau sangat sadar saat itu bukan?kupikir kita tak pernah minum alkhohol, soju atau vodka sebelum melakukannya..”

    dia menarik nafas kasar. menatap ke segala arah dengan bingung. sebelum akhirnya dia berkata. “tidak apa-apa…aku akan mencari…”

    “aku tak mau menggugurkannya”

    “APA?!!”

    “Bayi ini tidak bersalah… bukan dia yang harus menanggung dosa dan akibat dari kesalahan kita!!aku tidak mau egois..”

    “justru kau akan semakin egois jika mempertahankannya!!dia akan…”

    “kau yang egois!!kau hanya mencari kepuasan dan ingin menghapus sisa kepuasanmu!!apa kau tidak ingat bahwa kau mengatakan kalau kau akan bertanggung jawab?!!”

    DEG!!

    Jongin terdiam. nafasnya seolah berhenti. dadanya terasa begitu sesak.

    untuk beberapa detik dia diam mematung. beradu tatap denganku tanpa ada yang mengalah. tapi kemudian dia memalingkan wajahnya dariku.

    “aku akan memikirkannya nanti.. aku lupa, appaku memintaku pulang cepat hari ini”.

    jongin berdiri. meraih tas punggungnya dengan cepat. dan berjalan keluar dengan sedikit membanting pintu flatku.

    sekali lagi kusentuh perut datarku. tatapanku seketika kosong.

    “aku tak bisa membuangnya jongin….tidak bisa… “

    End of flashback..

    kuhapus air mataku yang tiba-tiba meleleh. mengingat memory pahit itu benar-benar menyiksaku.

    semenjak pertemuan dirumahku itu aku hanya bertemu sekali dengannya. hanya untuk berpamitan dan mengatakan bahwa dia akan pergi ke Miami bersama orang tuanya untuk waktu yang tak bisa ditentukan lamanya, dia bilang,dia pasti akan kembali. namun dia tak memberiku kepastian dan penjelasan tentang bayinya yang tengah kukandung. dia justru menyerahkan seamplop uang kepadaku. dia bilang uang itu untuk berjaga jika tiba-tiba aku berubah pikiran dan ingin menyingkirkan janin yang ada di dalam rahimku.

    kupikir itu terlalu kejam. bahkan sampai anaknya lahirpun dia tak pernah kembali.

    “aku akan membuatmu merangkak dan bersujud di kedua kakiku kim jong in!!”

    6 tahun kemudian…

    @Hello Cream Cafe, pukul 11.00

    “hei…pelan-pelan junhee…nanti es krimmu mengotori bajumu..”

    gadis kecil itu tersenyum manis. kemudian kembali menyendok es krim vanila di hadapannya.

    “ini kan sudah pulang sekolah eomma, tidak apa-apa kan jika bajuku kotor?kata seongsaengnim besok aku memakai seragam yang berbeda”

    hari ini adalah hari pertamanya masuk ke sekolah dasar. dan dia tampak sangat cantik dengan seragam sekolahnya yang berwarna merah muda dengan sebuah topi pet di kepalanya.

    Aku termenung sekilas menatap anakku. “junhee, ya tuhan… kenapa kau buat wajahnya mirip sekali dengan laki-laki brengsek itu?”. batinku.

    “eomma..”

    “hem?”. seketika lamunanku buyar saat mendengar panggilannya.

    “tadi di sekolah seongsaengnim menanyakan nama appaku untuk mengisi buku rapor..tapi…”

    kata-katanya terputus. wajah cantiknya tertunduk. aku tahu dia ingin berkata apa.

    aku berusaha tersenyum. kuraih dagunya. mengangkat wajah muram itu.

    “appa sedang pergi ke miami untuk bekerja junhee… sudah berap kali eomma katakan?appa junhee ada… tapi dia belum bisa pulang.. nanti saat junhee sudah dewasa, eomma akan mengajakmu menemui appa..”

    “tapi… junhee benar-benar punya appa kan?”

    aku masih berusaha tersenyum. walaupun itu menyakitkan. “tentu saja”

    “apa dia tampan eomma?”

    kuturunkan tanganku dari dagunya. menyendok es krim strawberryku lagi.

    “em… wajahnya mirip sekali denganmu”.

    “jinjjayo?”. tanyanya lagi. aku tertawa kecil melihat sorot mata lucunya.

    “hem…”. dehemku sambil mengangguk. “dia mempunyai mata yang sedikit lebar, bibir yang menawan, dan tubuh yang tinggi..”

    “beritahu aku namanya sekarang eomma….”. Rengeknya.

    sontak aku terdiam. ya, selama ini aku memang tak pernah memberitahu nama ayahnya. kupikir junhee terlalu kecil untuk mengingat dan membayangkan seperti apa sosok ayahnya.

    “ayolah eomma… ini untuk mengisi kolom nama orang tua di buku rapporku, kumohon…”

    aku menghela nafas panjang. kemudian meletakkan sendok es krim ku dan berucap lirih….

    “namanya Kim Jong In…”

    To Be Continue….

    Author : KenAsuka MilkyWay

    Poster By : Eka Rafikaratu

    Chapter awal!!
    maap reader… FF yang lain masih belum dapet ide buat ngelanjutinnya >_<
    tiba-tiba semalem pengen bikin cerita ini, daripada ditahan, ntar malah jerawatan kan? jadi kupikir lebih baik kurealisasikan saja…
    dan bagi yang baca, tolong jadilah reader yang baik, tinggalkan komentar..
    jika tidak, maka say goodbye saja untuk bagian yang aku protect di akhir… πŸ™‚

    kamsahamnida….

     

Advertisements

13 thoughts on “Traces Of The Past

  1. bunda………
    keyeeeeennnnn….. bner2 dech…. rela si ayah d tabokpake panggangan roti. meninggalkn junhee yg mnisssssssss…. >_<
    kpannn lanjutnya bundaaaa???

  2. LANJUT DET..WAJIB LANJUT DET..aku suka ceritanya,hah jong in jahat,mau enaknya aza..kasian junhee..ayo lanjutkan det,hwaiting.ntar kalau u ngepost lanjutannya kasih tau aku yah,oke oke

  3. haddow .. haddoww ..
    kai nya knpa dbkin gtu ya??
    lanjooooott thooorrr…
    pengen tau akhir dri kisah ini!!

  4. yaaaak.. baca di summary nya aja udah bikin emosi 😦

    kai.. kenapa kamu jd jahat nak?

    next capt jangan terlalu lama karena kamu udah kelamaan hiatusnya
    saeng-a hwaiting πŸ™‚

  5. yaah seranya jd pendendam gitu deeeh 😦
    kaitem jahaaat sekalee..berani berbuat ga berani tanggung jawab -__-
    ditunggu nextnya secepetnya nee thor ^^ FIGHTING !

  6. Daebak bgt ffnya… Jahatnya kau jd manusia wahai kim jong in-_-” Fighting to Junhee and Sera utk menghadapinya… Lanjut ffnya kak^_^

What Do You Think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s